Pemerkosaan Wulan (2)


Seminggu setelah kejadian di tepi sungai Musi itu, Wulan tengah menunggu rumahnya di daerah pasar 27 Palembang itu sendirian. Seluruh isi rumah pergi menginap di Kertapati karena ada acara keluarga, kecuali 2 keponakannya yang masih berumur 5 tahun. Jam 9 malam ketika Romi tiba-tiba muncul.

"Pergi dari sini!" Wulan berusaha mengusir Romi.

Namun dengan santai Romi mengeluarkan beberapa lembar foto dan diletakkannya di atas meja. Gadis ini miliknya, dan entah mengapa ia sangat terangsang jika melihat Wulan tersiksa.

Wulan terpucat melihat foto-foto yang diletakkan Romi diatas meja. Itu foto telanjangnya dan foto-foto adegan ketika ia digagahi beramai-ramai oleh orang malam itu.

"Nah, Wulan sekarang nurut bae.. Tenang bae, aku janji tidak maen kasar," Romi menyeringai sambil mengelus paha Wulan.

Wulan memang disuruh menjaga rumah itu sendirian bersama kedua ponakannya yang masih kecil yang sudah tidur. Hujan turun deras membuat udara malam itu dingin menggigit. Wulan diam pasrah ketika Romi menariknya ke belakang.

"Tenang be Wulan, kalau tidak nurut, foto kau kusebarkan di kampung kau. Biar tahu kalau kau biso dipakek."

Romi menarik Wulan ke dapur, pintu depan belum ditutup. Wulan mendesis tak berdaya.

"Tenang bae, Wulan. Aku cuma sebentar.."

Romi mulai meraba-raba payudara Wulan yang kencang, Wulan memang sudah bersiap tidur hanya mengenakan t shirt dan celana pendek saja. Puting susu Wulan yang runcing tampak menonjol keluar ketika Romi terus menggerayangi dada Wulan. Wulan menggigil ketika baju kaosnya ditarik ke atas lepas oleh Romi. Dengan tangannya Romi menarik tangan Wulan yang berusaha menutupi dadanya yang telanjang kemudian mulai menggerayangi payudara gadis itu dengan mulut dan lidahnya.

Wulan hanya dapat tersandar ketembok yang dingin sambil meringis-ringis ngilu ketika Romi menggigiti putingnya sementara tangannya dengan leluasa memelorotkan celana pendek Wulan hingga jatuh ke lantai. Romi terbelalak melihat celana dalam sutra Wulan yang berwarna putih dengan motif bunga itu begitu mini dan seksi. Tanpa menunggu lagi jilatan Romi turun ke perut Wulan yang rata, pusarnya, kemudian lambat laun celana dalam Wulan menyusul jatuh ke lantai. Romi melempar semua busana Wulan jauh ke sudut. Dengan sedikit paksaan Romi membentang paha Wulan kemudian menjilati vagina Wulan.

"Ohkk.."

Wulan terdongak merintih ngilu, antara rasa nikmat, marah dan malu menguasai dirinya ketika kedua tangan Romi mencengkeram pantatnya, membuka lebar vaginanya kemudian menjilatinya dengan bernafsu. Nafas Wulan terengah-engah tak terkendali mencoba menahan dirinya agar tidak terangsang.

Romi berdiri kemudian membuka baju dan celananya, hingga pakaian dalamnya, kemudian memegang penisnya yang panjang dan besar.

"Isep Wulan, ayo. Kalau tidak ingin dikasari."

Wulan terpaksa berlutut dihadapan Romi, kemudian mulai menjilati batang penis Romi. Wulan memejamkan matanya kemudian mulai mengocok Romi dengan mulut dan lidahnya. Romi menjambak Wulan kemudian menggerakan kepala Wulan maju mundur, menyetubuhi mulutnya. Suara berdecak-decak terdengar jelas disela deras air hujan. Wulan berusaha semampunya agar Romi puas dan berhenti, ia menjilat, mengulum, mengocok sebisanya, mengingat film-film BF yang pernah dilihatnya. Romi mengerang-erang nikmat, tubuhnya sampai tersandar ke meja dapur, "Ahh. Ohh. Wulann. Kau memang seksi dan pintar.. Ohh.."

Tiba-tiba Romi menarik tubuh Wulan kemudian mendudukkannya di atas meja pantry. Wulan hanya diam sambil terengah-engah ketika Romi mengangkangkan kedua pahanya kemudian mulai menekan pinggulnya. Wulan meringis ngilu ketika penis Romi yang keras dan besar itu menerobos vaginanya. Romi mulai menyetubuhi Wulan, memperkosanya dengan bertubi-tubi. Wulan hanya mendengus-dengus menahan diri. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja dengan kencang. Peluh membasahi tubuh mereka berdua. Wulan memejamkan matanya berharap Romi selesai, sementara lelaki itu terus menyentak-nyentak, mengeluar masukkan rudalnya ke dalam tubuh Wulan yang padat dan langsing.

Wulan terperanjat ketika membuka matanya. Ada lima lelaki bertubuh besar telanjang bulat di dapur itu! Ternyata Romi membawa teman-temannya dan mereka menunggu di mobil.

"Apa-apaan ini, Romi!!" Wulan berontak melepaskan diri.

Tapi ia tersudut disudut ruangan. Keenam lelaki itu mengepungnya.

"Sudahlah Wulan. Kalau kau njerit tidak ada yang denger jugo. Paling ponakan kau tula. Pintu depan la kami kunci, lampu la kami matike. Kau pasti dikiro sudah tidur.. He.. He. Nurut bela.., aku janji tidak kasar, entah kawan-kawan akuni..!"

Romi dan kelima temannya menyeringai bernafsu. Tubuh Wulan lemas, ia tak dapat melakukan apa-apa lagi selain pasrah. Tangannya ditarik ketengah ruangan, kemudian disuruh berjongkok.

"Ayo! Sedot punyo kami sikok-sikok!"

Enam batang penis disodorkan diwajah Wulan. Dan sambil menangis Wulan terpaksa mulai meng'karaoke'nya bergantian.

"Ohh.. Hebat nian Romi, betino kauni!!"
"Akhh. Aku.. Nak. Keluarr.."

Srett.. Srrtt..
Kepala Wulan dipegangi beramai-ramai sehingga ia terpaksa menelan sperma mereka satu demi satu.

"Kato kau segalo lubang Wulan ni biso dipakek?"
"Iyo! Ayo kito juburi rame-rame..!!"

Wulan menangis mendengarnya, "Jangann.. Ampun.. Sakit.."

Dengan cepat mereka menarik tubuh Wulan dan menengkurapkannya di lantai. Kelima lelaki itu mengeroyoknya, ada yang memegangi tangannya, menahan kakinya dan menunggingkan pantatnya, ada yang menahan kepalanya hingga Wulan benar-benar tak dapat bergerak. Salah seorang dari mereka mengambil botol minyak goreng di dekat kompor.

"Kami baik kok, Wulan, biar tidak sakit, kami minyaki dulu."

Yang lain tertawa tawa, Wulan dapat merasakan minyak goreng itu dituangkan dibelahan pantatnya, kemudian terasa jari jemari mereka mengusap-ngusap pantatnya, membukai lubang anusnya kemudian menusuk-nusuknya beramai-ramai. Wulan menangis dan merintih nyeri ketika lubang anusnya dibuka paksa oleh jari-jari itu. Setelah dirasa cukup salah seorang dari mereka mulai berlutut dibelakang Wulan tepat dibelahan pantatnya. Wulan hanya dapat melolong dan menangis tak berdaya ketika dirasakannya batang kemaluan itu melesak masuk ke duburnya.

Wulan mulai disodomi dilantai dapur itu. Sebuah penis disodorkan diwajahnya.

"Isep dulu Wulan, kalau tidak kami sodomi serempak tigo!!"

Wulan terpaksa mulai megulum-ngulum penis lelaki yang berlutut dihadapannya. Sementara lelaki yang dengan kasar menyodominya terus menyentak-nyentak. Wulan melihat sekilas salah seorang dari mereka mengambil sebuah terong panjang besar berwarna ungu dari kulkas. Tiba-tiba dirasakannya sesuatu yang dingin dan keras menerobos vaginanya.

"Nghh..!!"

Wulan hanya mampu melenguh perih karena mulutnya terbungkam. Seorang lelaki mengeluar masukkan terong itu ke vaginanya sementara duburnya disodomi.

"Biar tepakek galo lubangnyo!!"

Mereka tertawa-tawa puas. Tiba-tiba lelaki yang sedang menyodominya mengerang dan menyodok dengan keras. Wulan dapat merasakan cairan sperma yang hangat tumpah di anusnya. kemudian rekannya segera mengambil alih posisinya menyodomi Wulan. Tiba tiba lelaki yang dari tadi di'karaoke' oleh Wulan berbaring terlentang, dengan isyarat ia meminta teman-temannya menarik Wulan ke atas tubuhnya. Kemudian menarik tubuh Wulan hingga penisnya masuk ke vagina gadis itu. Bless.

"Aarhh..!!" Wulan mengerang kesakitan, sebelum sebuah penis lagi menyumbat mulutnya.

Wulan kembali diperkosa tiga orang sekaligus. Payudaranya diremas-remas dengan kasar hingga Wulan merasakan sakit bukan hanya dari dubur dan vaginanya yang dikocok paksa tapi juga dari buah-dadanya yang dipilin dan diremas dengan kasar. Tiba-tiba kedua tangannya ditarik kemudian dilumuri minyak sayur. kemudian dipegangkan pada penis dua lelaki lain. Wulan tertelungkup, dipeluk erat dari bawah, sementara vaginanya dipompa dengan kasar, seorang lagi menyodominya seperti binatang, seorang lagi memaksanya menghisap penisnya, menyetubuhi mulut Wulan dengan menjambak rambutnya, sedangkan dua lagi minta dikocok dengan kedua tangan Wulan.

Dan setiap salah seorang mencapai kepuasan, yang lain segera menggantikan posisinya, hingga pagi menjelang. Matahari mulai muncul ketika Romi menyentak-nyentak dubur Wulan dengan keras dan

"Oohh.."

Ia menyemburkan spermanya dipantat Wulan. Wulan pingsan. Ia tertelungkup telanjang bulat diatas lantai. Sperma berlepotan di perut, punggung dan wajahnya.

Mereka tidak sadar jendela terbuka dengan lampu menyala. Beberapa pemuda di rumah sebelah menyaksikan semuanya. Bahkan mereka memfoto dan memfilmkan kejadian itu. Bahkan dengan aneh, Romi membiarkan pintu dapur terbuka ketika pulang.

Keenam pemuda berandal itu segera bergegas ke rumah Wulan. Wulan baru saja sadar. Dubur dan vaginanya perih. Ia tertelungkup di lantai dapurnya, telanjang. Sperma kering berceceran di sekujur tubuhnya. Ia tersentak ketika lampu blits menyala. Betapa terkejut Wulan melihat enam pemuda tetangganya berdiri mengelilinginya, sibuk memfoto tubuh telanjangnya sambil menyeringai.

"Kami liat galo Wulan."

Mereka tersenyum mesum sambil menatap tubuh Wulan.

"Ternyata kau biso dipeke jugo.."

Wulan menangis tak berdaya ketika mereka membopong tubuhnya ke kamar tidurnya. Tubuhnya masih lemas. Dengan mudah tubuhnya ditelungkupkan diatas ranjangnya.

"Jangann. Gek ponakan aku bangun.. Jangan.." Wulan menangis tak berdaya.

Ia tahu mereka tak segan-segan menyebarkan fotonya. Jika itu terjadi entah bagaimana nasibnya di kampung itu.

"Diem Wulan, gek kami jago supayo mereka dak masuk. Sekarang nurut bae.."

Seseorang dari keenam pemuda itu membuka ccelananya. Mengangkat pantat Wulan. Kemudian mulai menyodomi anus Wulan.

"Uhh uhh! Uhh!" seperti binatang ia mulai menyentak-nyentak dubur gadis itu.

Wajah Wulan terbenam diatas kasur, meringis dan menangis tak berdaya, sementara kelima pemuda lain telah membuka celana masing-masing sambil mengocok kemaluannya memperhatikan Wulan yang terengah engah tak berdaya. Anusnya perih dan kesat. Hingga tiba-tiba pemuda itu menekan keras. Wulan menggigit seprei menahan sakit. Sperma pemuda itu muncrat mengisi anus Wulan, bertubi tubi.

"Aaahh.. Alangkah enaknyoo."

Ia terkulai lemas. Menarik penisnya dari anus Wulan. Begitu pemuda pertama selesai, yang kedua segera mengganti posisinya. Menyodomi Wulan dengan brutal. Wulan hanya bisa melolong tertahan. Tertelungkup sambil menggigit sepreinya kencang. Keenam pemuda itu menggilir Wulan di pantatnya. Cairan sperma kental mengalir keluar dari duburnya, bahkan ketika pemuda terakhir mencabut penisnya, Wulan tak sadar mengeluarkan kotorannya. Muncrat bersamaan dengan sperma pemerkosanya.

Mereka berenam tertawa. Wulan lemas ketika dilentangkan. kemudian lelaki yang selesai meyodominya tiba-tiba duduk didada Wulan,

"Ayo suruh ngisep taiknyo dewek!" penisnya yang berlumuran kotoran Wulan yang kental kuning dan bau itu disodokkan ke mulut Wulan. Sementara rekannya yang lain memeggangi kepalanya. Wulan terbelalak dan meronta ronta. Lelaki itu menyetubuhi mulutnya. Dan Wulan dapat merasakan cairan asam, pait dan busuk itu memenuhi mulutnya. Wulan meringis menahan muntah. Tapi mereka tak peduli. Wulan tergeletak tak berdaya di atas ranjangnya. Keenam pemuda itu segera keluar. Diluar suasana mulai ramai.

"Wulan, kalau tidak galak diglir sekampung, layani kami berenam!! Setiap kami ingin!" Ancam mereka. Dan Wulan hanya sanggup menangis. Sejak kejadian malam itu Wulan tak menyadari bahwa foto-fotonya sengaja disebar semua pemuda berandal di kampungnya. Dan Wulan tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar